Jumat, 11 November 2011

mengapa harus pkbm


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Kemajuan dan kemakmuran suatu bangsa tecermin pada keadaan sosial, ekonomi, teknologi dan kesadaran anggota masyarakat akan hak dan kewajibannya dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sebagai buah dari pembangunan yang dilakukan oleh bangsa tersebut. Pembangunan tidak terjadi begitu saja akan tetapi terjadi melalui suatu proses yang dilakukan dengan cara terencana, terarah dan berkelanjutan.
Dengan tingkat pertumbuhan penduduk sebesar 1,3 persen per tahun bukan saja merupakan rambu-rambu bagi pemerintah, dikarenakan laju pertumbuhan penduduk terus membengkak, tapi juga memberi dampak luas bagi penyediaan pangan, pendidikan, kesehatan dan lapangan kerja. Belum lagi jumlah penduduk miskin dan pengangguran yang masih tinggi. Masalah yang muncul dari pengangguran dan setengah pengangguran tidak hanya terbatas pada aspek ekonomi dan ketenagakerjaan, tetapi mempunyai implikasi yang lebih luas yaitu; mencakup aspek sosial, psikologis, dan bahkan politik. Apabila jumlah pengangguran dan setengah pengangguran cenderung meningkat, akan berpengaruh besar terhadap kondisi negara secara keseluruhan, antara lain meningkatnya jumlah penduduk miskin.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pengangguran, diantaranya: 1)  adanya kesenjangan antara supply and demand, jumlah pencari kerja lebih besar dari jumlah peluang kerja yang tersedia; 2) terjadinya mis-match, kesenjangan antara   kompetensi pencari kerja dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh pasar kerja; 3) unskill labour, masih adanya anak putus sekolah dan lulus yang tidak melanjutkan dan tidak dapat berusaha secara mandiri karena tidak memiliki keterampilan yang memadai; 4) terbatasnya peluang kerja yang tersedia sehingga tidak seimbang dengan jumlah pencari kerja, 5) terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) karena krisis global; 6) terbatasnya kemampuan warga masyarakat dalam mengolah sumber daya alam menjadi produk yang bernilai ekonomis sebagai sumber mata pencaharian. Kondisi tersebut di atas akan berdampak pada merebaknya masalah sosial dan tidak terberdayanya sumber-sumber daya alam yang melimpah.
Sebagai hasil dari sikap  yang kurang memperhatikan aspek keterampilan rendah dan menengah disatu sisi serta pembentukan sikap mental yang dituntut, agar dapat mengelola suatu mata pencaharian di lain pihak, menyebabkan banyak kekayaan alam yang seharusnya dapat menjadi sumber kehidupan masyarakat, kurang dapat dimanfaatkan. Hal ini dikarenakan keterampilan untuk mengelolanya sangat terbatas pada keterampilan yang sudah ada sejak dari nenek moyang dahulu kala. Sementara lulusan perguruan tinggi tidak siap mengisi kekurangan tersebut. Baik karena perasaan enggan, malu, angkuh dan sebagainya. Telah megakibatkan angka pengangguran yang pada akhirnya menjadi angka kemiskinan terus membangkak.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kita masih memiliki sekolah kejuruan menengah, namun sekolah ini juga kurang memperhatikan potensi lingkungan darimana peserta didik berasal. Sehingga peserta didik setelah lulus dan kembali ke lingkungannya kurang dapat berbuat banyak untuk mengolah potensi yang ada di lingkungannya. Hal ini karena keterampilan yang mereka peroleh selama mengikuti pendidikan dan pengajaran di sekolah kurang pas untuk mengolah kekayaan lingkungannya menjadi sumber kehidupannya. Sehingga seorang lulusan sekolah kejuruan yang seharusnya mampu membuka menjadi pencari kerja terdidik. Harus diakui bahwa orientasi lulusan sekolah sampai saat ini adalah untuk dapat diterima bekerja, bukan untuk membuka pekerjaan.
Berkaitan dengan hal tersebut, maka Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) sebagai ujung tombak Pendidikan Nonformal dan Informal mengembangkan program pendidikan di masyarakat yang berbasis kewirausahaan  yang diharapkan dapat melahirkan wirausahawan baru dan dapat menciptakan lapangan kerja baru, sekaligus mendukung pengembangan usaha ekonomi kreatif dan produktif.
Manajemen PKBM Berbasisi Kewirausahaan dilakukan dengan tujuan untuk :
1. Memperluas dan mengembangkan model kewirausahaan melalui pendidikan kewirausahaan masyarakat yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, potensi wilayah, dan peluang usaha yang ada.
2. Mensinergikan program penanganan pengangguran melalui kewirausahaan yang dilaksanakan secara lintas sektoral agar terjadi kesinambungan dan saling komplementer, sehingga menghasilkan wirausaha-wirausaha baru yang mampu menciptakan lapangan kerja baru bagi dirinya dan orang lain serta dapat menggerakkan perekonomian di daerah.
3. Meningkatkan peran serta lembaga/satuan pendidikan nonformal, lembaga kepemudaan dan sejenisnya, dalam melaksanakan pendidikan kewirausahaan masyarakat bagi penduduk penganggur usia produktif yang potensial menjadi wirausaha.

B.     Permasalahan

Berdasarkan gambaran umum di atas, maka yang menjadi permasalahan adalah apakah manajemen PKBM berbasis kewirausahaan dapat menciptakan wirausaha-wirausahawan baru di Lingkungan Kecamatan Bungaraya Kabupaten Siak.

C.    Tujuan

Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan karya nyata ini adalah untuk mendeskripsikan munculnya wirausaha baru melalui manajemen PKBM berbasis kewirausahaan di Kecamatan Bungaraya Kabupaten Siak.













BAB II
KAJIAN TEORI

A.      Pengertian Manajemen
Istilah manajemen, sebenarnya hingga saat ini masih belum ada keseragaman. Selanjutnya, bila kita mempelajari literatur manajemen, maka akan ditemukan bahwa istilah manajemen mengandung tiga pengertian yaitu:
Manajemen sebagai suatu proses,
1.     Manajemen sebagai kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen,
2.    Manajemen sebagai suatu seni (Art) dan sebagai suatu ilmu pengetahuan (Science)
Menurut pengertian yang pertama, yakni manajemen sebagai suatu proses, berbeda-beda definisi yang diberikan oleh para ahli. Untuk memperlihatkan tata warna definisi manajemen menurut pengertian
yang pertama itu, dikemukakan tiga buah definisi.
Dalam Encylopedia of the Social Sience dikatakan bahwa manajemen adalah suatu proses dengan mana pelaksanaan suatu tujuan tertentu diselenggarakan dan diawasi. Selanjutnya, Hilman mengatakan bahwa manajemen adalah fungsi untuk mencapai sesuatu melalui kegiatan orang lain dan mengawasi usaha-usaha individu untuk mencapai tujuan yang sama.
Menurut pengertian yang kedua, manajemen adalah kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen. Jadi dengan kata lain, segenap orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen dalam
suatu badan tertentu disebut manajemen.
Menurut G.R. Terry manajemen adalah suatu proses atau kerangka kerja, yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-orang kearah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud yang nyata. Manajemen juga adalah suatu ilmu pengetahuan maupun seni. Seni adalah suatu pengetahuan bagaimana mencapai hasil yang diinginkan atau dalam kata lain seni adalah kecakapan yang diperoleh dari pengalaman, pengamatan dan pelajaran serta kemampuan untuk menggunakan
pengetahuan manajemen.
Menurut Mary Parker Follet manajemen adalah suatu seni untuk melaksanakan suatu pekerjaan melalui orang lain. Definisi dari mary ini mengandung perhatian pada kenyataan bahwa para manajer
mencapai suatu tujuan organisasi dengan cara mengatur orang-orang lain untuk melaksanakan apa sajayang pelu dalam pekerjaan itu, bukan dengan cara melaksanakan pekerjaan itu oleh dirinya sendiri.
Itulah manajemen, tetapi menurut Stoner bukan hanya itu saja. Masih banyak lagi sehingga tak ada satu definisi saja yang dapat diterima secara universal. Menurut James A.F.Stoner, manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya anggota organisasi dan menggunakan semua sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
3.        Pengertian PKBM
Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) merupakan tempat belajar yang dibentuk dari, oleh dan untuk masyarakat, dalam rangka meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap, hobi dan bakat warga masyarakat yang bertitik tolak dari kebermaknaan dan kebermanfaatan potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam yang ada dilingkungannya.
PKBM memiliki makna yang besar karena PKBM dilaksanakan di tengah-tengah masyarakat. Tempat-tempat yang digunakan biasanya strategis dan fleksibel seperti gedung SD, gedung balai desa, puskesmas, gedung RT.RW dan lain sebagainya. Penggunaan formal tempat-tempat tersebut biasanya hanya sementara waktu bahkan tempat-tempat tersebut ada kalanya dalam kondisi menganggur.
PKBM memiliki makna yang besar karena PKBM menggunakan program yang dibutuhkan dan dirasakan masyarakat. Pengelolaan dilakukan oleh sumber daya manusia setempat dengan menggunakan waktu secara fleksibel. Pelaksanaan program tidak terbatas pada paket-paket program yang kaku atau sudah ada dan pelaksanaan masyarakat (pertanian, kehutanan, peternakan, perdagangan, koperasi, kesehatan, lingkungan ataumuda-mudi). Karena program yang dilaksanakan tekait dengan mata pencaharian masyarakat, maka dapat dipastikan keterlibatan masyarakat sangat tinggi.
Keterlibatan masyarakat yang tinggi merupakan langkah awal pengembangan PKBM selanjutnya. Perkembangan PKBM terus berlanjut karena PKBM adalah milik masyarakat dan PKBM tidak tergantung dari peran pemerintah karena PKBM bukan milik pemerintah. Kepemilikan PKBM oleh masyarakat merupakan bukti partisipasi nyata. Rasa kepemilikan yang terjadi akan menyebabkan tumbuhnya kreativitas dan tanggung jawab dalam pembelajaran masyarakat selanjutnya, sebagai contoh PKBM menjalin hubungan dengan dunia usaha. Keterkaitan dengan dunia usaha tersebut sebagai wahana peningkatan taraf hidup masyarakat. Keterkaitan PKBM dengan dunia usaha merupakan salah satu pembelajaran masyarakat yang berkelanjutan.

4.        Pengertian Berbasis
Berbasis diambil dari kata dasar basis yang artinya dasar, pangkalan, tumpuan, landasan. Penambahan awalan ber-basis mengandung arti berdasarkan atau bertumpukan. Kata berbasis merupakan kata antara, harus ada kata berikutnya yang mengiringi. Jika kata berbasis diposisikan sebagai kata tunggal maka tidak akan mengandung makna. Karena itu harus jelas bertumpu pada apa ? dan apa yang bertumpu?

5.        Pengertian Kewirausahaan
Kewirausahaan pada hakekatnya adalah sifat, ciri dan watak seseorang yang memiliki kemauan dalam mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif (Suryana, 2000). Istilah kewirausahaan  berasal dari  terjemahan “Entrepreneurship”, dapat diartikan sebagai “the backbone of economy”, yang adalah syaraf pusat perekonomian  atau pengendali perekonomian suatu bangsa (Soeharto Wirakusumo, 1997:1). Secara epistimologi, kewirausahaan merupakan suatu nilai yang diperlukan  untuk memulai suatu usaha atau suatu proses dalam mengerjakan sesuatu yang baru dan berbeda. Menurut Thomas W Zimmerer, kewirausahaan merupakan penerapan kreativitas dan keinovasian untuk memecahkan permasalahan dan upaya untuk memanfaatkan peluang yang dihadapi sehari-hari. Kewirausahaan merupakan gabungan dari kreativitas, keinovasian dan keberanian menghadapi resiko yang dilakukan dengan cara kerja keras untuk membentuk dan memelihara usaha baru.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kewirausahaan adalah suatu kemampuan dalam berpikir kreatif dan berperilaku inovatif yang dijadikan dasar, sumber daya, tenaga penggerak, tujuan siasat, kiat dan proses dalam menghadapi tantangan hidup.
5.1  Perkembangan Kewirausahaan
Dahulu ada pendapat bahwa kewirausahaan merupakan bakat bawaan sejak lahir, bahwa entrepreneurship are born not made, sehingga kewirausahaan dipandang bukan hal yang penting untuk dipelajari dan diajarkan. Namun dalam perkembangannya, nyata bahwa kewirausahaan ternyata bukan hanya bakat bawaan sejak lahir, atau bersifat praktek lapangan saja. Kewirausahaan merupakan suatu disiplin ilmu yang perlu dipelajari. Kemampuan seseorang dalam berwirausaha, dapat dimatangkan melalui proses pendidikan.  Seseorang yang menjadi wirausahawan adalah  mereka yang mengenal potensi dirinya dan belajar mengembangkan potensinya untuk menangkap peluang serta mengorganisir usahanya dalam mewujudkan cita-citanya.
Dan menurut Suryana, sejalan dengan tuntutan perubahan yang cepat pada paradigma pertumbuhan yang wajar dan perubahan ke arah globalisasi yang menuntut adanya keunggulan, pemerataan, dan persaingan, maka dewasa ini terjadi perubahan paradigma pendidikan. Pendidikan kewirausahaan telah diajarkan sebagai suatu disiplin ilmu tersendiri yang independen, yang  menurut Soeharto Prawirokusumo adalah dikarenakan oleh:
  1. Kewirausahaan berisi “body of knowledge” yang utuh dan nyata (distinctive), yaitu ada teori, konsep, dan metode ilmiah yang lengkap.
  2. b. Kewirausahaan memiliki dua konsep, yaitu posisi “venture start up” dan “venture growth”. Hal ini jelas tidak masuk dalam “frame work general management courses” yang memisahkan antara “management” dengan “business ownership”.
  3. Kewirausahaan merupakan disiplin ilmu yang memiliki objek tersendiri, yaitu kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda
  4. Kewirausahaan merupakan alat untuk menciptakan pemerataan berusaha dan pemerataan  pendapatan atau kesejahteraan rakyat yang adil  dan makmur.
Seperti halnya ilmu manajemen yang pada awalnya berkembang pada lapangan industri, kemudian berkembang dan diterapkan di berbagai lapangan lainnya, maka disiplin ilmu kewirausahaan dalam perkembangannya mengalami evolusi yang pesat, yaitu berkembang bukan pada dunia usaha semata, tetapi juga pada berbagai bidang, seperti bidang industri, perdagangan, pendidikan, kesehatan dan institusi-institusi lainnya.
Dengan memiliki jiwa/corak kewirausahaan, maka birokrasi dan institusi akan memiliki motivasi, optimisme dan berlomba untuk menciptakan cara-cara baru yang lebih efisien, efektif, inovatif, fleksibel, dan adaptif.
Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa Manajemen PKBM Berbasis Kewirausahaan adalah suatu proses untuk mencapai suatu tujuan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang ditumpukan pada kegiatan  lembaga agar terciptanya warga belajar yang memiliki kemauan dalam mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif.
Manajemen PKBM  berbasis kewirausahaan lebih berfungsi sebagai pusat pembekalan dan penggodokan kemampuan aplikatif yang terkait dengan lingkungan kerja dan pemanfaatan sumber daya alam. Dengan bekal kemampuan aplikatif warga belajar merasa siap untuk memasuki dunia kerja yang tersedia atau bahkan membuka usaha sesuai dengan keterampilan yang dimiliki. Penulis lebih condrong bahwa manajemen PKBM berbasis kewirausahaan lebih mengembangkan kemampuan berwirausaha dengan jiwa kewirausahaan yang diiringi pengembangan kretifitas. Kreatifitas adalah kemampuan untuk menghasilkan sesuatu, gagasan atau karya yang orisinal dan berorientasi pada kemanfaatan, sehingga memacu tempilnya ide dan produk baru. Dalam situasi krisis dimana nilai sedang dipertanyakan seperti sekarang ini, kreatifitas sangat diperlukan sebagai wahana untuk membebaskan pikiran dari bebagai belenggu yang menghambat dan membutuhkan keluarnya akal pikiran sehat. Memang bukan suatu yang mudah untuk membentuk para wirausahawan yang tangguh, tetapi itu lebih baik dari pada mendidik warga belajar yang hanya mampu tergantung pada orang atau instansi lain. Oleh karena itu dalam pembelajaran masyarakat, pengembangan kretifitas diprioritaskan dan dibudayakan supaya menjadi kekuatan untuk kemajuan individu.
Kemampuan-kemampuan seperti yang tersebut diatas, dikembangkan pada semua jenis program manajemen PKBM berbasis kewirausahaan, sehingga warga belajar siap terjun ke masyarakat setelah ia menyelesaikan program tertentu. Dengan demikian penjenjangan pada manajemen PKBM berbasis kewirausahaan lebih diutamakan untuk pengembangan profesionalitas. Dari pernyataan diatas dapat dikatakan bahwa parameter keberhasilan manajemen PKBM berbasis kewirausahaan terlihat dari kemampuan lulusan pendidikan untuk belajar sendiri, menyaring informasi yang relevan dan benar serta dapat memanfaatkannya dalam mengembangkan produk yang bermanfaat bagi peningkatana kesejahteraan diri dan lingkungannya.
Dalam rangka pendewasaan, manajemen PKBM berbasis kewirausahaan membekali individu sebagai peserta pembelajaran dengan kemampuan untuk mengidentifikasi masalah dan cara pemecahan masalah. Memahami masalah dan pemecahannya sama halnya dengan memahami potensi, kebutuhan dan kekurangan diri. Mempercepat pengembangan potensi lebih efektif bila dikaitkan dengan pemenuhan kebutuhan. Pada dasarnya manusia berkeinginan untuk hidup lebih baik karena itu manusia  akan terus berusaha memperbaiki apa yang sudah dimilikinya. Karena itu keinginan untuk memenuhi kebutuhan merupakan dorongan seseorang untuk berbuat sesuatu. Semakin besar kebutuhan yang dirasakan semakin besar pula kemauan (motivasi) seseorang untuk melakukan hal-hal yang menurutnya diperlukan untuk memenuhi kebutuhan itu. Tingkah laku sebenarnya merupakan cerminan dari kebutuhan yang dirasakan seseorang baik yang bersifat morial, material dan financial. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa motivasi merupakan variable penghubung antara kebutuhan manusia dengan tingkah laku yang teridentivikasi. Hal ini berarti motivasi (kemauan) tidak mungkin timbul dengan sendirinya, tetapi ada faktor lain yang mendorong timbulnya motivasi tersebut.. faktor yang dimaksud adalah desakan kebutuhan yang menuntut untuk dipenuhi
Mengapa Manajemen PKBM Berbasis Kewirausahaan ?
Sebagai hasil dari sikap  yang kurang memperhatikan aspek keterampilan rendah dan menengah disatu sisi serta pembentukan sikap mental yang dituntut, agar dapat mengelola suatu mata pencaharian di lain pihak, menyebabkan banyak kekayaan alam yang seharusnya dapat menjadi sumber kehidupan masyarakat, kurang dapat dimanfaatkan. Hal ini dikarenakan keterampilan untuk mengelolanya sangat terbatas pada keterampilan yang sudah ada sejak dari nenek moyang dahulu kala. Sementara lulusan perguruan tinggi tidak siap mengisi kekurangan tersebut. Baik karena perasaan enggan, malu, angkuh dan sebagainya. Telah megakibatkan angka pengangguran yang pada akhirnya menjadi angka kemiskinan terus membangkak.
Belajar dari pengalaman yang merupakan bagian dari belajar sepanjang hayat menunjukkan bahwa sebenarnya hasil belajar yang masih diperlukan masyarakat adalah kebiasaan yang langsung dapat digunakan untuk menghasilkan sesuatu untuk menopang kehidupannya. Untuk mendapatkannya tidak diperlukan waktu yang lama dan biaya yang besar, yang akan menyebabkan beban berkepanjangan. Masyarakat tidak mencari pengetahuan yang hasilnya baru dapat dilihat setelah kurun waktu yang cukup lama. Karena hal seperti ini sering bukan memecahkan permasalahan tetapi menciptakan masalah baru.
Pendidikan dan pengajaran yang mampu menjawab apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan masyarakat bukan pendidikan dan pengajaran yang bertumpu pada pemerintah tetapi pendidikan dan pengajaran yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat itu sendiri. Pendidikan demikian bertumpu pada kekuatan yang tumbuh dan berkembang dilingkungan masyarakat. Hal ini berarti pendidikan dan pengajaran yang megakui adanya perbedaan dan keanekaragaman program sesuai tuntutan lingkungan.







BAB III
KEGIATAN DI PKBM
Kegiatan yang telah dilaksanakan adalah pelatihan kewirausahaan baik itu yang bersifat Kursus Wirausaha Desa (KWD) maupun pelatihan  dibidang wirausaha lainnya dimana kegiatan tersebut dilaksanakan bekerjasama dengan dinas pendidikan ataupun bekerjasama dengan dinas lainnya (lintas sector). Pelatihan dilakukan dengan menekankan kepada upaya peningkatan kemampuan wirausaha warga belajar yang dipadukan  dengan peningkatan pendapatan warga belajar itu sendiri. Kegiatan percontohan dilakukan pada 1 kelompok pelatihan budi daya rosella dan pengolahannya yang bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Pekanbaru yang diprakarsai oleh Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM)  jumlah warga belajar 8 orang yang diajarkan dan dilatih mengenai budidaya rosella dan pengolahannya.
Kegiatan budidaya dan pengolahan rosella dilaksanakan selama tiga bulan dengan memenfaatkan waktu hari Sabtu dan Minggu. Hasil dari kegiatan tersebut satu dari delapan warga belajar menekuni  pengelolaan industri rumah tangga dalam bentuk pembuatan   dodol rosella, teh rosella, sirup rosella dan selai rosella. Lokasi kegiatan adalah di Dusun Jatimulya Desa Jatibaru Kecamatan Bungaraya Kabupaten Siak.
Kegiatan yang lain dalam bentuk pelatihan pengolahan pupuk organik yang diprakarsai oleh dinas pertanian dimana kegiatan ini merupakan kegiatan lintas sektor antara PKBM dengan dinas terkait. Kegiatan diikuti oleh 5 warga belajar. Kegiatan dilaksanakan selama satu minggu mulai dari hari Senin - Minggu dengan memenfaatkan waktu pukul 8.00 – 11.00. Hasil dari kegiatan  sebanyak 5 warga belajar tersebut membentuk satu kelompok  untuk mengolah sumberdaya alam yang ada (limbah padi dan kotoran ternak) dan tersedia di lingkungan sekitar dimana selama ini barang tersebut tidak dimanfaatkan oleh para petani.Kelompok tersebut sekarang sudah memiliki mesin pengolah pupuk organik dan mampu menghasilkan pupuk organik sebanyak 4 – 5 ton per bulan.

Kegiatan lain yang dilakukan oleh PKBM dibidang kursus tata rias pengantin yang didanai oleh dinas pendidikan. Dengan bekal yang diberikan oleh PKBM kepada warga belajar memunculkan embrio baru sebagai wirausaha baru dibidang jasa penyewaan pakaian dan make-up pengantin.





















BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A.        Kesimpulan
Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan pelatihan kewirausahaan di PKBM yang telah dilakukan, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.          Kegiatan budidaya dan pengolahan rosella yang dilakukan di Dusun Jatimulya Desa Jatibaru Kecamatan Bungaraya dapat meningkatan pendapatan warga belajar.
2.          Kegiatan Pelatihan Kewirausahaan dapat meningkatkan pendapatan warga belajar bilamana kegiatan  yang dipilih disesuaikan dengan minat, kebutuhan, kondisi lingkungan warga belajar dan adanya hal-hal baru yang diterapkan untuk memperbaiki dan meningkatkan prosedur kerja yang menjadi mata pencaharian warga belajar yang bersangkutan.
3.          Kegiatan Pelatihan Kewirausahaan yang terkait dengan minat dan kebutuhan warga belajar dapat menjadi motivasi bagi warga belajar untuk aktif mengikuti kegiatan pelatihan kewirausahaan yang lainnya.
B.         Saran-saran
Berdasarkan kesimpulan tersebut di atas, maka disarankan:
1.          Agar kegiatan kewirausahaan yang dikembangkan oleh PKBM diarahkan pada peningkatan pendapatan warga belajar.
2.          Agar kegiatan kewirausahaan dapat mengarahkan warga belajar kepada peningkatan pendapatan warga belajar, maka pemilihan tema usaha dilakukan berdasarkan kondisi lingkungan warga belajar, minat dan kebutuhan belajar warga belajar, mata pencaharian yang ditekuni warga belajar dan diupayakan adanya hal-hal baru yang berfungsi untuk memperbaiki prosedur dan cara kerja yang dapat diterapkan oleh warga belajar dalam memperbaiki kualitas dari produksi dari mata pencaharian yang ditekuninya.